Showing posts with label Cengkir Gading. Show all posts
Showing posts with label Cengkir Gading. Show all posts

Saturday, September 4, 2010

Full Album Religius

Download Full Album:
Track List
  • 1. Dengan Nafasmu
  • 2. Hidup Hanya Sementara
  • 3. Syukur Alhamdullilah
  • 4. Cahayamu
  • 5. Doa Yang Terlupakan
  • 6. Dengan Nafasmu (karaoke)
  • 7. Hidup Hanya Sementara (karaoke)
  • 8. Syukur Alhamdullilah (karaoke)
  • 9. Cahayamu (karaoke)
  • 10. Doa Yang Terlupakan (karaoke)

Download Full Album:
Track List:
  • 1. SurgaMu
  • 2. Andai Ku Tahu
  • 3. Selamat Lebaran
  • 4. Doa
  • 5. Shalawat
  • 6. SurgaMu (Karaoke)
  • 7. Andai Ku Tahu (Karaoke)
  • 8. Selamat Lebaran (Karaoke)
  • 9. Doa (Karaoke)
  • 10. Shalawat (Karaoke)

Download Full Album:

Track List:
  • 1. Hanya Allah
  • 2. Cahaya Hati
  • 3. Ya Nabi Salam
  • 4. Alangkah Indah
  • 5. Cinta Setulus Jiwa
  • 6. Hamba-Hamba Allah
  • 7. Ketika Cinta
  • 8. Allah Ya Nur
  • 9. Tuhan Lindungilah
  • 10. Ramadhan Tiba

Download Full Album:
Download mp3

Full Album Religius

Download Full Album:
Track List
  • 1. Dengan Nafasmu
  • 2. Hidup Hanya Sementara
  • 3. Syukur Alhamdullilah
  • 4. Cahayamu
  • 5. Doa Yang Terlupakan
  • 6. Dengan Nafasmu (karaoke)
  • 7. Hidup Hanya Sementara (karaoke)
  • 8. Syukur Alhamdullilah (karaoke)
  • 9. Cahayamu (karaoke)
  • 10. Doa Yang Terlupakan (karaoke)

Download Full Album:
Track List:
  • 1. SurgaMu
  • 2. Andai Ku Tahu
  • 3. Selamat Lebaran
  • 4. Doa
  • 5. Shalawat
  • 6. SurgaMu (Karaoke)
  • 7. Andai Ku Tahu (Karaoke)
  • 8. Selamat Lebaran (Karaoke)
  • 9. Doa (Karaoke)
  • 10. Shalawat (Karaoke)

Download Full Album:

Track List:
  • 1. Hanya Allah
  • 2. Cahaya Hati
  • 3. Ya Nabi Salam
  • 4. Alangkah Indah
  • 5. Cinta Setulus Jiwa
  • 6. Hamba-Hamba Allah
  • 7. Ketika Cinta
  • 8. Allah Ya Nur
  • 9. Tuhan Lindungilah
  • 10. Ramadhan Tiba

Download Full Album:

Friday, September 3, 2010

Musibah, Ujian? atau Azab Allah?

Sekarang BANYAK SEKALI musibah, ketika musibah-musibah itu, plus musibah lumpur panas(sidoarjo), secara beruntun terjadi di tanah air, masih juga banyak orang yang jauh dari tempat musibah bereaksi sama. Ikut prihatin sebentar, lalu diam-diam atau terang-terangan bersyukur bahwa bukan mereka yang terkena.

Karena beruntun, setidaknya dalam dua tahun belakangan, banyak pula yang terusik dan bertanya-tanya: Ini ada apa? Ini cobaankah, peringatan, atau siksa dari Tuhan?

Memang, ada beberapa ayat suci yang jelas-jelas menyatakan bahwa musibah dan kerusakan adalah akibat ulah manusia (misalnya, Q.4: 62; 28: 47; 30: 36, 41; 42: 48). Namun, dalam menjabarkan ayat-ayat itu, berbeda-beda hujah orang. Ada yang dengan nada keminter menyalahkan pihak-pihak selain dirinya. "Alam itu memiliki karakter yang tetap," katanya; "Gunung, laut, angin, dsb sama saja tidak pernah berubah. Jadi, bisa dipelajari. Seharusnya para ilmuwan dapat memberikan masukan informasi kepada pemerintah dan masyarakat. Semestinya pemerintah sudah mengantisipasi gejala-gejala alam itu. Apa kerja Badan Meteorologi dan Geofisika itu?"

Dari mereka yang suka menyalahkan itu, ada yang lucu; menyalahkan presiden yang dianggap membawa sial dan seharusnya diruwat.

Ada pula yang agak memper, menyalahkan orang-orang yang suka merusak alam. Menurut mereka, alam marah kepada manusia yang terus-menerus melukainya. Bukan hanya manusia yang bisa kecewa, marah, demo, dan ngamuk. Alam pun bisa.

Ada yang lebih kehambaan dengan mengakui bahwa semua ini akibat dosa masal terhadap Tuhan pencipta manusia dan alam. Dosa kita semua. Jadi, tidak relevan dan sia-sia apabila hanya saling tunjuk, menganggap pihak lain saja yang berdosa, seolah-olah masing-masing merupakan wakil Tuhan.

Semua aturan Tuhan dilanggar beramai-ramai. Diangkat menjadi khalifah di kehidupan di dunia, tidak merawat dan mengelolanya secara baik, malah merusaknya. Mereka yang merasa benar tidak mau membenarkan, malah hanya menyalah-nyalahkan. Mereka yang berkesempatan berkorupsi tidak ditutup kesempatannya berkorupsi, malah dipupuk dan diberi peluang.

Hukum yang seharusnya menata malah ditata. Penegak hukum yang melencengkan hukum tidak dibantu menegakkan, malah didorong untuk terus melencengkannya. Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua merajalela. Amuk di mana-mana.

"Karena dosa masal, untuk menghentikan hajaran Tuhan ini, tiada lain kita semua mesti melakukan tobat masal," kata sohibul pendapat itu.

Saya sependapat dengan pikiran tersebut karena saya sendiri juga melihat kenyataan perikehidupan kita yang seperti itu. Saya setuju dan mendukung anjuran tobat masal, tapi tidak dengan pengertian yang sederhana. "Hanya" ramai-ramai istighotsah secara seremonial, nangis-nangis minta ampun kepada Tuhan, lalu sudah.

Tobat yang saya dukung adalah tobat yang sesungguhnya. Masing-masing mengidentifikasi kesalahan sendiri dan menyesalinya, lalu bertekad tidak mengulangi. Mereka yang merasa pernah merampas hak orang lain segera mengembalikan atau meminta ikhlas dari pihak yang terampas. Misalnya, pejabat yang pernah mengorupsi harta rakyat, segeralah mengembalikan. Atau, jika telanjur habis termakan, mengadakan konferensi pers untuk memohon keikhlasan dari rakyat.

Mereka yang pernah atau sering nyogok atau menerima sogok, segera berhenti dan berjanji tidak akan mengulangi. Mereka yang karena memiliki kelebihan, baik berupa kekayaan, kepintaran, maupun kekuasaan, hendaklah segera menyadari bahwa itu semua adalah anugerah Tuhan yang seharusnya disyukuri, bukannya dijadikan alasan untuk angkuh serta merendahkan orang lain.

Mereka yang suka memutlakkan pendapat dan kebenaran sendiri hendaklah segera menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah dan mulai belajar menghargai pendapat orang lain. Demikian seterusnya. Kemudian, baru dengan tulus dan khusyuk memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

Kesalahan-kesalahan yang telanjur dilakukan karena kebodohan serta kecerobohan harus diakui dan diusahakan memperbaiki dengan belajar atau menghindarinya sama sekali. Misalnya, karena pengetahuan kita mengenai bencana alam dan penanganannya masih minim, kita harus mengakui dan belajar.

Misalnya, karena nasib baik atau KKN, seseorang diangkat dan diserahi tugas yang tidak begitu dikuasainya, lalu timbul kesalahan, dia bisa memperbaiki dengan belajar. Tapi, bila tugas tersebut sama sekali di luar kemampuannya, segera saja mundur. Sebab, kesalahannya akan beranak-pinak.

Karena itu semua adalah pendekatan kehambaan, kuncinya adalah kerendahhatian. Tanpa sikap rendah hati, tobat akan sia-sia belaka.

Waba'du, meskipun wadag kita dari lumpur, tidak seharusnya kita bersikap seperti lumpur Porong yang seenaknya sendiri, merusak ke sana kemari, susah diatur, tidak jelas maunya. Sebab, dalam wadag kita, Allah meletakkan cahaya penerang: akal dan hati nurani.

Album Bendera Cinta - Al Muqtashidah Group Langitan


New Al Muqtashidah yang diluncurkan pada Bulan Januari 2009 lampau... Adalah Album Bendera cinta ini. Vokal yang lengkap dengan Muh. Ridwan, Abdul Hamid, Abdul Qodir, Iqbal Hidayatullah, Mas'ud, As'ad, dan As'ad Azizi Falaqi. Album Sholawat ini tetap mempertahankan ciri khas Album Langitan, yang tetap memberikan sentuhan rohani baik dalam pakaian dan olah geraknya.
Adapun Lagu yang dibawakan ada 10 Sholawat yang agak asing buat pemula belajar sholawat. berikut ini lagu-lagunya :
01. Madza Aquulu
02. Anal Islam
03. Illa Rasulallah
04. Man Allaman
05. Janatul Abidin
06. An-nabi Shollu 'alaih
07. Royatul Hubbi
08. Washfun Nabi
09. Khoiro Kholqillah
10. Aroftuka

Untuk Download Mp3 Gratisnya ada di link dibawah ini :
01. Madza Aquulu.mp3
02. Anal Islam.mp3
03. Illa Rasulallah.mp3
04. Man 'Allaman.mp3
05. Janatul Abidin.mp3
06. An-nabi Shollu 'Alaih.mp3
07. Royatul Hubbi.mp3
08. Washfun Nabi.mp3
09. Khoiro Kholqillah.mp3
10. 'Aroftuka.mp3

Album Bangkitlah Indonesia - Dhentha Ria Group


Album Sholawat ini merupakan campuran antara Sholawat dan Syai'ir - syair islam yang mengajak akan koreksi diri dan perjuangan. namun demikian ciri khas islam yang ditampilkan sungguh menajubkan terlebih nuansa ke Nahdlatul Ulama. Sesuai Nama Album Bangkitlah indonesia, inti sari yang di yang tersirat adalah menuju indonesia rahmatan lil alamin. ada 8 lagu yang dippersembahkan.

Album ini termasuk baru sehingga mudah didapatkan ditoko musik islami terdekat. Album ini berbentuk VCD dan kaset, untuk MP3nya dapat didapatkan didownload sebagai berikut :
01. Damailah Negeriku.mp3
02. Sadarlah.mp3
03. Maulal Mawahib.mp3
04. Satu Abad Kebangkitan.mp3
05. Wakil Rakyat.mp3
06. Amanat Tuhan.mp3
07. Khudz Ma Shofa.mp3
08. Semua Saudara.mp3

Semoga bermanfaat, persembahan dari kami.

Monday, August 30, 2010

Azdan


bila adzan tlah memanggil
aku mendengar tapi tak peduli
bahkan sering tak sembahyang
seakan tak takut pada ilahi


bila adzan berkumandang
aku bekerja dan sulit berhenti
bahkan sering menganggap ringan
seakan aku hidup kekal abadi

terkubur aku ditelan  gelombang kerakusan dunia
ku takut bila dimurkanya
allah ampunilah aku yang selalu
menangis sekujur tubuhku
 
membayangkan azab setelah mati
sampai kapan hidup begini
aku rindu padamu ya allahku
ya allah terimalah tobatku
 
ampunilah dosa-dosaku ya allah
ya allah ampunilah aku
penuhilah jiwa ragaku
dengan rahmat dan berkahmu
ya allah ampuni selalu,,,

Sunday, August 29, 2010

Ku Slallu Menantimu

Aku sendiri di sini
Selalu Mengharap Hadir mu kembali
Menanti Kasih sayang yang Kau Bawa
Yang Begitu Tulus Dan Sempurna

Kian hari ku Menunggu mu
Tuk Hadir mendampingi ku
Yang tak mampu menatap cinta lain
Dan tak sanggup berdiri s'perti dulu

kemana lagi aku harus berjalan
Mencari dirimu yang penuh Lama Telah Menghilang
Haruskah aku terus berjuang
Menelusuri ranjau yang Aral Rintangan?

Aku tak mengharap lebih darimu
Hanya Cinta yang Tulus Suci Untuk Ku
Hanya Kasih sayang yang harap Darimu
Tuk Dampingiku Sampai Nanti Di Masa Senjaku

Andai takdir tak berpihak padaku
Berilah aku kesempatan tuk Melihatmu
Dan Mencari orang yang bersedia menggantikan mu
Walau berat rasa hati Melupakanmu.

 

Di Hatiku Selalu Ada Cinta

T'lah lama ku arungi lembah berduri
Yang terus menusuki Jiwa Ini
Sehingga membuatku rapuh Dan tak berdaya
Seakan hidup ini tak lagi ada gunanya

Tapi...
Ku Percaya Semua itu hanya ujian
Semua itu bak Sandiwara
Yang membuat hidup ini tak yakin akan cinta

Ku tak pernah menghapus cinta ini
Ku tak kan pernah membuang Sayang Ini
Karena... dihatiku selalu ada cinta
Yang Begitu Tulus Hanya Pada NYA

Ke Agunganmu

Seandainya bila Aku harus pulang nanti..
aku ingin menyebut nama mu yang terakhir kali,
karena selama ini aku telah lalai
akan kasihmu ya ilahi robbi,

aku tidak tahu bekal apa yang harus ku bawa
tuk menghadapmu nanti wahai yang ESA
karena Hamba insan Berlumur Dosa
Yang Tak Pantas Bertempat Di Dalam Surga
Ya Tuhan
berikanlah hamba setetes karuniamu
agar hamba tidak lagi tersesat kejurang Hina Tanpa RidhoMU

YA tuhan
jika hamba memang harus pulang
berikanlah hamba setetes hidayah Dan Kasih Sayang
Karena Hamba Tak Sanggup Bertempat Dineraka Jahanam
Yang KAU Ciptakan Buat Orang2 Tak Ber Iman

Amin ya robbal allamin…

Ku bersimpuh Ke Padamu Ya ROBB

dalam keheningan malam ..aku bersujud ke pada Mu ya robb
iznkan aku mendekati Mu
Jangan Kau campakan aku dalam murkaMu ya Raab….
Karena aku Tak Sanggup Hidup Tanpa Ridhomu

aku yg berlumur dosa karena ke jahilan ku…
basuh lah aku dg ampun Mu ya Raab…
selimbutkan lah aku dg kasih Mu…..
Aku bersimpuh di hadapan mu….bukan meratapi..jalan takdir ku..
Aku bersimpuh di hadapan Mu…bkn meratapi..kesengsaraan ku…..
Aku bersimpuh di hadapan Mu…karena aku dahakan cinta dan kasih MU ya Raab
Dekatlah lah Engkau padaku wahai…pencipta sekaelian alam..

agar bsa tenang jiwa ku……..
agar tentram hidup ku…..

Agar …..damai hatiku…..
Biarkan lah aku tersenyum….

dengan semua ..keputusan Mu….
Sesungguh nya Engkau .yg Maha mengetahui apa yg terbaik untuk ku….


Amin....

Ke Agunganmu

Seandainya bila Aku harus pulang nanti..
aku ingin menyebut nama mu yang terakhir kali,
karena selama ini aku telah lalai
akan kasihmu ya ilahi robbi,

aku tidak tahu bekal apa yang harus ku bawa
tuk menghadapmu nanti wahai yang ESA
karena Hamba insan Berlumur Dosa
Yang Tak Pantas Bertempat Di Dalam Surga
Ya Tuhan
berikanlah hamba setetes karuniamu
agar hamba tidak lagi tersesat kejurang Hina Tanpa RidhoMU

YA tuhan
jika hamba memang harus pulang
berikanlah hamba setetes hidayah Dan Kasih Sayang
Karena Hamba Tak Sanggup Bertempat Dineraka Jahanam
Yang KAU Ciptakan Buat Orang2 Tak Ber Iman

Amin ya robbal allamin…

Puisi islam

Islam agamaku, nomor satu di dunia
Islam benderaku, berkibar dimana-mana
Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya
Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku
Islam podiumku, kelas eksklusif yang mengubah cara dunia
memandangku
Tempat aku menusuk kanan-kiri
Islam media-massaku, gaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam sana-sini
Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku
Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk-pikuk tiada tara
Islam bursaku
Islam warungku, hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku, melayani segala keperluan manusiawi
Islam makananku
Islam teaterku, menampilkan karakter-karakter suci
Islam festivalku, memeriahkan hari-hari mati
Islam kausku
Islam pentasku
Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa
Tuhan, Islamkah aku?

Al-Fithru (Berbuka)

Waktu berbuka merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh orang yang berbuka, pada saat itulah kebahagiaan dari orang yang berpuasa tampak, dan dalam waktu tersebut doa orang yang berpuasa tidak tertolak. Karena itu, ketika bedug maghrib, hendaknya orang yang berpuasa mengisi diri dengan ibadah ringan seperti tilawah, dzikir dan doa, atau berusaha untuk mengajak keluarganya berkumpul dan melakukan kajian ringan sebagai taushiyah dan mauizhah hasanah untuk keluarganya.
Dan ketika mendengar azan maghrib, maka ingatlah beberapa sunah berbuka:
1. Mensegerakan berbuka.
Inilah yang membedakan sahumnya muslim dengan Yahudi dan Nasrani. Dan mengikuti sunnah Rasulullah saw:
لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ. إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ
“Agama ini akan terus tampak di muka bumi selama manusia mensegerakan berbuka puasa, karena Yahudi dan Nasrani selalu mengakhirkannya.” (Abu Daud, dan Al-Albani berkata; Isnadnya shahih)
2. Berbuka dengan ruthab (kurma basah) atau tamar (kurma kering).
Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir berkata:
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرُّطَبُ لَمْ يُفْطِرْ إِلاَّ عَلَى الرُّطَبِ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ الرَّطَبُ لَمْ يُفْطِرْ إِلاَّ عَلَى التَّمْرِ
“Bahwa nabi saw jika ada ruthab maka beliau tidak berbuka kecuali dengan ruthab, dan jika tidak ada ruthab beliau tidak berbuka kecuali dengan tamar.” (Shahih al-jami’ as-shagir lil Albani).
3. Berdo’a saat berbuka dengan doa yang ma’tsur,
Seperti yang disebutkan dalam hadits ibnu Umar, berkata:
ذَهَبَ الظَّمأُ ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ ، وثَبَتَ الأجرُ إِن شاءَ اللهُ
“Telah pergi rasa haus dan basah tenggorokan serta telah ditetapkan ganjarannya insya Allah SWT.” (Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani).
4. Mendoakan orang yang berbuka bersamanya.
Dari ibnu Zubair berkata: Bahwa Nabi saw. jika berbuka bersama suatu kaum bersabda:
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلائِكَةُ
“Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, sedangkan Malaikat bershalawat atas kalian.” (Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani).

i’tikaf

Al-hamdulillah, shalawat dan salam serta keberkahan semoga berlimpah kepada Nabi kita Muhammad saw, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mendukungnya..Selanjutnya
Wahai Ikhwanul Muslimin
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Semoga Allah menerima puasa kita semua, begitu pula qiyam dan amal shalih kita, saat ini kita berada di puncak bulan yang mulia, menuju sepuluh hari terakhir, dimana pada saat-saat inilah sunnah menghidupkan I’tikaf.
I’tikaf merupaka sarana pembersih jiwa dan olah raga hati, ia juga merupakan salah satu wahana untuk melakukan khalwah (komunikasi langsung) kepada Allah dengan bersungguh-sungguh menggapai kebahagiaan dan cocok untuk memperbaiki hati-hati kita, dengan cara memutuskan secara penuh hubungan dengan dunia dan menerima secara full perintah Allah SWT berupa menunaikan shalat, tilawah, dzikir, meninggalkan berbagai kesibukan duniawi, ucapan tiada guna, makan dan tidur. Siangnya para mu’takifin (orang yang beri’tikaf) melakukan dzikir, fikir, tilawah, tasbih dan tahmid, dan ketika hari mulai gelap mereka
يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
“Mereka sibuk dengan kegiatan untuk Tuhan mereka dengan bersujud dan qiyam” (Al-Furqan:64)
Karena menyadari bahwa waktu malam merupakan saat yang tepat untuk mendekatkan diri kepada yang dicintai (Allah), dan bersujud merupakan saat yang sempurna untuk berkomunikasi kepada-Nya dan bermunajat keharibaan-Nya.
Nabi saw pernah bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Jarak terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah pada saat sujud, maka perbanyaklah berdo’a”. (Muslim)
Mereka pada malam hari bermunajat kepada Tuhan mereka dengan ucapan yang ternikmat, meletakkan wajah mereka dengan penuh ketawadhuan untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah Tuhan semesta alam, air mata  membasahi pipi dan jenggot mereka, hati-hati merengkuh mengharap rahmat Allah dan takut akan azab-Nya
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
“(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?”. (Az-Zumar:9)
Lisan mereka senantiasa mengucapkan:
Mata tidak tidur kepada selain karena Allah adalah batil #
Sementara tangis mereka kepada selain karena kehilangan-Mu adalah sia-sia
Agar dapat terwujud hal tersebut wahai ikhwan sekalian maka selayaknya memperhatikan hal-hal berikut:
1. Berusaha untuk I’tikaf dan tidak keluar dari kondisi tersebut kecuali karena darurat.
Bahwa nabi saw tidak masuk kerumahnya kecuali karena kebutuhan jika berada dalam kondisi I’tikaf”. (Bukhari).
2. Mengisolir diri dalam kondisi I’tikaf dari majlis-majlis gurau, canda, main-main kecuali majlis yang terdapat di dalamnya ilmu, dzikir atau ketaatan kepada Allah. Barhati-hatilah dari menyia-nyiakan waktu dengan banyak tidur.
3. Bersungguh-sungguh pada 10 hari terakhir, khususnya dimalam-malamnya yang ganjil, dengan berharap dapat berjumpa dengan lailatul qadar memenuhi seruan nabi saw
تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان
“Bersungguh-sungguhlah untuk menggapai malam-malam al-qadar pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan” (Muttafaqun alaih)
Bersungguh-sungguh mengisinya dengan kataatan kepada Allah guna menggapai pahala dan ridha Allah SWT. Sesuai dengan sabda nabi saw:
من قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa yang bangun pada malam al-Qadar dengan iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Bukhari)
Kebutuhan kita terhadap i’tikaf
Bahwa I’tikaf yang disyari’atkan yang diisi dengan ketaatan adalah sarana membentuk seorang mu’takif pada sosok dan bentuk baru, menelurkan peribadi yang baru penuh dengan nilai-nilai keikhlasan dan kejujuran, berisi dengan ruh yang suci dan optimis, siap melakukan nilai-nilai jihad dan tadhiyah, jauh dari berbagai syahwat dan insting negative.
Seakan I’tikaf merupakan pencuci ruh, mengeluarkan hamba darinya kepada yang lebih bersih dari dosa-dosa, lebih suci dari apa yang ada dalam hati, siap menerima hidup dengan ruh baru seluruhnya, dengan fitrah yang suci dan akhlak yang terpuji, bahkan mampu menunaikan kerja menunaikan risalah menuju cahaya Tuhannya. Dan hendaknya hal itulah yang dibutuhkan dan berusaha digapai oleh Ikhwanul Muslimin.
Orang-orang beri’tikaf adalah sosok mumpuni yang siap mengemban risalah dan menunaikan amanah
Wahai ikhwanul Muslim yang mulia…
Ketahuilah bahwa Ikhwanul Muslimin  adalah jamaah yang berusaha untuk dekat dengan Tuhannya dan memiliki hubungan erat dengan sang penciptanya, jamaah inilah sebagai satu-satunya jamaah yang memiliki kesiapan untuk mengemban risalah kebenaran, mewujudkan yang terbaik dalam kehidupan umat manusia, karena mereka berusaha meraih pada malam dan siang hari berbagai sebab tarbiyah dan bentuk-bentuk kemuliaan ruh. Sejarah menjadi saksi bahwa kelompok yang senantiasa melakukan I’tikaf, ruku’ dan sujud serta memiliki rasa takut kepada Allah, hati mereka penuh dengan perasaan rindu, mata mereka menangis saat membaca Al-Qur’an, menjadi orang pertama melakukan kebaikan, jujur dalam berkorban dan berjihad, dan memiliki azam yang kuat dalam menampilkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.
Bahwa dengan berinteraksi dengan benar terhadap Al-Qur’an dan manhaj tarbiyah yang bersih pada saat mengikuti madrasah lail dan I’tikaf akan menghasilkan pribadi dan sosok yang seimbang dalam bentuk dan perilakunya, sehingga kita dapat melihat seorang muslim yang benar menjadi rahib (ahli ibadah) dimalam hari senantiasa terdengar bacaan Al-Qur’an seperti dengungan lebah, sementara dadanya rindu dari membaca Al-Qur’an dan menyimaknya seperti kerinduan orang bertemu dengan anaknya yang telah berpisah selama bertahun-tahun,  jika ditabuh genderang perang maka tampak diri mereka meloncat ke atas kuda perangnya, jika dilakukan majlis ilmu dan kajian maka tampak darinya seorang yang faqih dan antusias mencarinya, ketika menjadi jaksa yang memutuskan berbagai urusan manusia tampak darinya sosok yang senantiasa berbuat adil dengan bertahkim pada yang benar dan jauh dari hawa nafsu, jika masuk pada medan politik maka tampak darinya orang yang cerdas dan pintar yang mampu meletakkan berbagai urusan di tempatnya, mampu membedakan antara yang baik dan yang rusak, tidak tertipu dengan agamanya dengan bahasa yang menipu, jika bergaul dengan keluarganya tampak darinya sosok paling baik, paling banyak menjalin silaturahim dan paling tahu akan asal-usul keluarga secara baik, dan jika berinteraksi dengan sesama manusia terdapat dalam dirinya sosok yang mulia dan cerdas tidak suka menipu dan tertipu.
Ia merupakan kelompok yang tertarbiyah dalam madrasah lail yang sesuai dengan manhaj Al-Qur’an yang bijaksana, sehingga mampu menembuskan cahaya Allah ke dalam hati-hati mereka, meluruskan lisan-lisan mereka, komitmen pada jalan yang hak tanpa intrik dan kegoyahan, mengajak dan menyeru kepada Allah dengan penuh bashirah, sehingga Allah membuka hati-hati mereka dan memenuhi relung jiwa mereka dengan senandung ikrar yang kekal
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاي وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am:162-163)
Tidak tersimpangkan dari apa yang mereka rasakan akan nikmatnya kebenaran dan tidak gentar karena Allah terhadap celaan dari para pencela.
Demikianlah sosok Qur’aniyah dan rabbaniyah yang sangat dibutuhkan umat, yang mana ikhwanul Muslimin berusaha untuk mewujudkannya dalam diri dan jiwa mereka sendiri terkebih dahulu, dan berusaha mewujudkannya  dalam diri dan jiwa umat yang ada disekitar mereka.
Mereka menghidupkan malam-malamnya dengan ketaatan kepada Tuhan mereka # Dengan tilawah dan tadharru (ketundukan) dan munajat
Pada malam hari mereka menjadi hamba yang khusyu’ sementara saat berjihad # melawan musuh mereka merupakan sosok yang paling berani
Karena itu, marilah kita beri’tikaf secara benar wahai ikhwah sekalian yang mulia, jika kalian mengharap menjadi bagian dari mereka dan berjalan seperti jalan yang mereka tempuh, menyatu dalam katibah (batalyon) mereka, dan semoga Allah memberi taufik-Nya kepada kita semua dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah. Allah
Maha Besar dan segala puji hanya Milik Allah semata, dan salawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw.
Muhammad Mahdi Akif
Mantan Mursyid Am Ikhwanul Muslimin

Dikutib Dari Berbagai Sumber

Tarbiyah Mas’ul Dakwah dan Struktur Kepengurusan

Sesungguhnya dakwah memberikan perhatian khusus terhadap tarbiyah para mas’ul, mempersiapkan kemampuan dan kemahiran di bidang yang digelutinya, begitupula dengan persiapan tarbawi. Hal ini merupakan dasar yang akan membantunya dalam menjalankan tugas sesuai dengan kemampuannya.
Berikut beberapa sisi-sisi penting yang sangat diperhatikan dalam tarbiyah para mas’ul:
a. Yang berhubungan langsung dengan diri mas’ul
1. Rasa tanggung jawab yang tinggi seorang mas’ul di hadapan Allah Swt., dan ia akan memikul amanah tersebut di hadapan-Nya.
2. Selalu ikhlas dalam setiap amal, dan menghindari sifat-sifat ujub, angkuh, riya, sum’ah (ingin selalu dipuji), serta selalu berupaya merasakan bahwa ia sangat membutuhkan jamaah ini, dan bukan jamaah yang membutuhkannya.
3. Tidak tergantung dengan kedudukan, sama halnya ia dikedepankan atau dikebelakangkan, serta selalu menguatkan semangat jundiyah (militansi dan kepatuhan terhadap pemimpin).
4. Senantiasa memuhasabah dirinya, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab –semoga Allah meridhainya-.
5. Hendaknya ia memiliki bekal khusus dari ibadah dan ketaatan, yang dengannya ia mendapatkan bekal ruhi, dan menjadikannya sebagai sarana untuk meminta taufik dari Allah, memperbanyak doa, meminta dan menyandarkan diri kepada Allah.
6. Dan hendaknya ia selalu memiliki kekuatan spiritual yang tinggi, semangat yang selalu membara, dan tekad yang kuat.
b. Yang berhubungan dengan tugasnya:
1. Kemurnian yang paripurna, yaitu dengan mengikat setiap anggota tarbiyah dengan jamaah, dan bukan dengan figuritasnya, serta tidak menghalangi siapa saja yang bersamanya dari anggota kelompok dan jamaah.
2. Amanah dalam pengiriman dan penyampaian
3. Mengembangakan potensi dan kemampuan diri, serta berupaya untuk mendapatkan beberapa keahlian yang dibutuhkan.
4. Lebih mengutamakan kerja, dan menjauhkan diri dari cara-cara yang gaduh dan suara yang tinggi, senantiasa tawakkal kepada Allah, mengutamakan hal-hal yang substabsial, sebagaimana lebih baik baginya memiliki buku tanpa judul dari pada memiliki judul tanpa buku.
5. Selalu menggunakan cara-cara musyawarah dan prosedural kerja.
6. Menerima nasehat dari siapapun
7. Memperhatikan adab-adab muhasabah dan evaluasi, dan hendaknya tegas dan mampu mengambil keputusan.
8. Hendaknya ia Menjadi teladan bagi siapa saja yang bersamanya dalam hal ketaatan, kedisiplinan dan dalam berbagai hal.
9. Mampu mengkondisikan suasana, serta menebar iklim kasih, persaudara dan saling memikul beban.
10. Menjaga keadilan dan kesamaan dalam hubungan sosialnya, mampu memperhitungkan dan memutuskan sesuatu secara tepat, serta bersandar pada kebenaran dan bukti.
11. Menerima masukan, permintaan dan evaluasi
c. Yang berhubungan dengan interaksinya dengan anggota tarbiyah
1. Lapang dada, berbaik sangka dan percaya terhadap ikhwah yang lain, karena mereka adalah turut berperan bersamanya untuk memikul tanggungjawab.
2. Memiliki kemahiran tarbiyah dalam menyampaikan taujih (pengarahan) dan materi-materi tarbiyah, karena ia bertanggungjawab terhadap mereka, mengembangkan potensi yang mereka miliki dan pendelegasian yang tepat.
3. Memiliki kemampuan untuk menguasai anggota, menghadapi problematika dan permasalahan-permasalahannya.
4. Mengenal karakter, tipikal dan kondisi setiap anggota
5. Mewujudkan makna-makna Ta’aruf, Tafahum, dan Takaful, dengan makna yang sempurna di antara anggota.
6. Tidak menyembunyikan ilmu, mentransfer pengalaman dan kemampuan kepada orang-orang yang bersamanya, serta bekerja keras dalam mewariskan dakwah dan pembentukan simpatisan dakwah.
7. Saling berhubungan dengan ikhwah yang lain, berinteraksi dengan mereka, dan berada di garda terdepan bersama mereka.
8. Menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang yang lebih senior dan yang junior dari mereka.
Muwashafat tarbawiyah (karakteristik kader tarbiyah) ini tentunya tidak mungkin dilahirkan dalam waktu sehari-semalam, atau dengan mengadakan lompatan-lompatan tertentu, namun hal ini hanya bisa terwujud dengan ketekunan, latihan, dan pengarahan yang berkesinambungan. Kita tidak mengatakan bahwa seorang mas’ul dalam segala sisi telah memiliki dan menyempurnakan karakter-karakter ini, namun paling tidak ada standar minimal untuk kita memulai. Yang kemudian penyempurnaan, latihan dan peningkatan kualitas tarbiyah akan dilanjutkan dengan menggunakan sarana-sarana tarbiyah yang beraneka ragam, dengan tetap mengetahui bahwa jika seorang kader yang hendak diberikan tanggungjawab ternyata memiliki sebuah cela yang bisa merusak, maka kita harus berhenti sejenak sebelum memberikan tanggungjawab tersebut, dan kita tidak boleh meremehkan permasalahan itu, walaupun ia memiliki banyak karakter positif yang lain.
Diantara permasalahan-permasalahan tersebut adalah sebagai berikut: Lemahnya makna jundiyah (militansi dan ketaatan kepada qiyadah), lemahnya kedisiplinan terhadap jamaah dan condong kepada figuritas dan mengikuti pandangan individu dan nafsu, tidak memiliki loyalitas, bergantung dengan kedudukan dan posisi serta tidak siap untuk meninggalkannya jika diminta, keras hati dan kasar terhadap orang lain, bangga terhadap diri sendiri, tidak menerima kritikan dan masukan (terutama dalam hal penyimpangan finansial dan akhlak), dll.
Kepengurusan dalam dakwah kami, tidak terpisah dari tarbiyah dan pembinaan, karena keduanya adalah sebuah kemestian. Praktek kepengurusan pada dasarnya merupakan praktek nilai-nilai tarbiyah dan ia memiliki bentuk dan sarana yang beragam, ia tidak semata mengikuti sebuah manhaj studi atau gagasan yang disampaikan di pelatihan-pelatihan managerial, namun lebih kepada praktek, latihan, interaksi dan pelatihan anggota tarbiyah oleh mas’ul.
Adab-adab Islam, akhlak dan batasan-batasannya dalam hubungan dan interaksi langsung yang terjalin antara anggota tarbiyah dengan batasan-batasan kerja itu sendiri, merupakan asas tarbiyah dan mahhaj praktis yang akan mewujudkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Struktur kepengurusan di dalam jamaah pada dasarnya merupakan sebuah fase tarbiyah dimana ada saling keterkaitan dan kesatuan dalam menjalankan tanggungjawab, dan bukan struktur kelompok yang hanya melakukan kerja-kerja nisbi yang terpisah di beberapa sekat yang berbeda-beda. Struktur-struktur itu misalnya, serikat para pekerja, petani, kalangan profesional, pedagang, pegawai, ulama, atau persatuan para guru, pelajar dan kaum wanita. Dengan pelbagai jenjang tanggungjawab yang ada di internal struktur kepengurusan tersebut, justru mereka berada dalam satu barisan yang saling bertautan erat yang membentuk kesamaan tanggungjawab, baik melalui pemilihan atau penetapan dari anggota tanpa melihat sekat-sekat bidang di tempat mereka bekerja, lalu mereka menyelesaikan tugas dan kepentingan mereka secara kolektif.
Tidak mengapa jika struktur kepengurusan tersebut berupa kepanitiaan atau tim-tim khusus yang bekerja dan bergerak di masing-masing bidang dan divisi tertentu.
Terkadang, beberapa peristiwa menimbulkan gerakan tertentu terhadap jamaah, sementara ia belum memiliki kesiapan yang sempurna dengan kemampuan dan ketersediaan tenaga-tenaga ahli, baik kuantitas maupun kualitas yang mumpuni. Dalam kondisi seperti ini, dakwah tentu tidak bisa berdiri mematung hingga sempurna seluruh potensi dan kemampuan yang ada. Namun selayaknya pada waktu itu, ia berusaha menggali dan memusatkan perhatian untuk menyiapkan pembinaan-pembinaan tarbawi dan keahlian untuk para tokoh di dalam jamaah, dan hendaknya aktivitas dan peristiwa yang terjadi tidak menggangu proses pembinaan tarbawi dan pembinaan terhadap aset dan tokoh-tokoh jamaah. Hendaknya juga dilakukan upaya keras untuk mengobati titik-titik cela dan kelemahan yang ada. Proses penyiapan kader-kader handal yang memiliki kemampuan paripurna dalam pelbagai sisi baik tarbawi maupun keahlian tertentu merupakan proyek besar yang membutuhkan waktu yang relatif panjang.
Sesungguhnya pertolongan Allah akan datang setelah dikerahkannya seluruh kemampuan manusia secara optimal, dan menyandarkan seluruh urusan dan bertawakkal kepada-Nya.
Sesungguhnya kader-kader dakwah yang menonjol, tokoh-tokoh, dan kader-kader yang menjadi figur-figur politik dan sosial, sangat membutuhkan perhatian tarbawi dan evaluasi yang cermat dan terus-menerus, karena karakter gerakan dan aktivitas mereka, serta kantor-kantor tempat mereka bekerja akan menguras banyak waktu yang mereka miliki, dan hal itu sudah barang tentu memberikan dampak terhadap kondisi ruhi dan tarbiyah mereka.
Sebagaimana sorotan publik, pers, kemilau kedudukan, dan gema suara mikropon terkadang memberikan implikasi yang cukup besar terhadap jiwa dan memberikan pengaruh yang negatif, yang kemudian menyebabkan terjadinya fitnah dan penyimpangan, baik pikiran, kedisiplinan, loyalitas, ketaatan dan ruh militansi. Yang kemudian menyebabkan timbulnya sifat liar, takjub dengan pendapat sendiri, dan hanya loyal untuk kepentingan diri dan kemaslahatannya sendiri. Hal ini bahkan sampai pada penolakan terhadap taujih (seruan atau himbauan jamaah) dan pelanggaran terhadap rukun-rukun bai’at, baik sebagian maupun seluruhnya.
Untuk itu, kami menegaskan tentang pentingnya persiapan tarbiyah yang baik dan berkualitas terhadap figur-figur kader yang menonjol dan tokoh-tokoh dakwah yang beraktivitas sebelum diterjunkan ke pelbagai lapangan, memberikan imunitas kepada mereka dari fitnah dan penyimpangan, serta melanjutkan pembinaan tarbawi secara terus menerus dan berkesinambungan, dan senantiasa menerapkan budaya musarahah (berterus terang) dan taujih-taujih tarbawi, serta memberikan perhatian yang besar terhadap bentuk-bentuk penyimpangan sejak mula, walaupun sesuatu yang kecil dan sederhana, dan hendaknya jamaah selalu tegas dan disiplin dalam menerapkan hal ini.

Dikutib Dari: www.al-ikhwan.net

Bahagia saat akan berakhir bulan Ramadhan

Kadang tidak terasa bulan Ramadhan sudah berada di akhir perjalanannya, hari-hari yang indah akan berlalu, waktu-waktu yang penuh berkah akan berakhir, tentunya seorang muslim patut berbahagia mampu melaksanakan ibadah Ramadhan hingga di penghujung terakhir.
Sebelumnya seorang muslim bergembira dengan datangnya Ramadhan. Mengawali indahnya sahur dan buka pertama pada hari pertama bulan Ramadhan. Mengenang begitu nikmatnya berbuka puasa, menunaikan shalat tarawih berjamaah, tilawah Al-Qur’an, shalat berjamaah di setiap shalat wajib, mendengarkan ta’lim, bersedekah dan membayar zakat,  beri’tikaf, bermunajat, dan amalan-amalan baik lainnya, tidak terasa sudah berada dipenghujung bulan Ramadhan.
Walaupun –tidak dapat dipungkiri- dengan berakhirnya bulan Ramadhan banyak perasaan yang muncul di hati yang bercampur menjadi satu; ada kecemasan dan rasa sedih serta duka manakala menyadari bahwa bulan yang penuh dengan kebaikan dan pahala akan berakhir, apalagi ada perasaan takut, cemas dan khawatir jika usia tidak sampai pada Ramadhan berikutnya; begitu pula ada rasa bahagia, senang dan gembira, manakala telah berhasil menjalankan ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya, dan berharap berakhir dengan mendapatkan derajat yang paling mulia disisi Allah yaitu taqwa. Allahumma amin.
Dan mungkin yang paling tepat untuk kita baca adalah
اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وركوعنا وسجودنا وتخشعنا وتصرعنا  وتلاوتنا وتصدثنا وتمم تقصيرنا برحمتك يا أرحم الراحمين
“Ya Allah terimalah puasa kami, qiyam kami, ruku’ kami, sujud kami, kekhusyuan kami, ibadah kami, tilawah kami, sedekah kami dan sempurnakanlah segala kekurangan kami wahai Zat yang Maha Kasih dari yang mengasihi”.
Dan juga membaca doa sebagaimana yang nabi ajarkan
اللهم بلغنا رمضان
“Ya Sampaikanlah kami pada bulan ramadhan”
Dan guna menjaga nilai-nilai taqwa dan memelihara kesan baik pada bulan Ramadhan  setelah menyelesaikan puasa di bulan Ramadhan, maka nilai-nilai positif dari puasa dan amalan-amalan lainnya harus tetap dipertahankan; menjaga shalat wajib secara berjamaah, senantiasa tilawah Al-Qur’an, qiyamulail, sedekah, dan memupuk solidaritas dan kepedulian serta memelihara nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa; sikap rendah diri, pemaaf, ikhlas, dan lain sebagainya.
Berbagai kebahagiaan berakhirnya bulan Ramadhan
Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah dan amaliyah pada bulan Ramadhan; maka ada beberapa kebahagiaan yang insya Allah dapat kita rasakan;
1. Bahagia telah berhasil dengan sempurna melaksanakan dan menunaikan ibadah dan amaliyah pada bulan Ramadhan.
Seperti harapan kita yang dimohonkan pada awal memasuki bulan rajab; “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Telah terkabul.
Dan harus kita akui bahwa berhasilnya menunaikan segala aktivitas dan amaliyah bulan Ramadhan, dengan kondisi iman yang mantap, fisik yang kuat, dan mental yang sehat merupakan anugerah yang tidak terhingga, sehingga mampu melaksanakan perintah puasa dengan khidmat. Ali bin Abu Thalib pernah berkata: “Sehat jasmani adalah anugerah yang paling indah”
Melalui aktivitas dan amaliyah ibadah di bulan Ramadhan, kita diberi bonus pahala berlipat dan kesempatan untuk melebur dosa-dosa yang pernah dilakukan. Seperti yang telah dijanjikan oleh Rasulullah saw bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan.
2. Bahagia dapat menumbuhkan kepedulian terhadap sesama
Kebahagiaan  kedua yang dapat kita rasakan pada saat berakhirnya bulan Ramadhan adalah karena kita telah mampu menunaikan kewajiban zakat; terutama zakat fitrah. Sebuah ibadah yang tidak lain sebagai bentuk penyucian diri setiap muslim sekaligus sebagai penyempurna puasa Ramadhan, dan memunculkan sikap kepedulian terhadap sesama.
Bahwa diantara tujuan dan hikmah diwajibkannya ibadah zakat selain mengupayakan kesucian diri, keberkahan harta benda yang dimilikinya, juga dapat menghilangkan sifat kikir, menampakkan kepedulian dan tolong menolong antar sesama, sehingga tidak ada kesenjangan yang jauh antara orang kaya dan miskin.
Selain menunaikan zakat yang menjadi kewajiban, kita juga dianjurkan untuk melaksanakan ifthar jama’i (berbuka bersama) walaupun dengan memberikan seteguk air putih; dengan mengajak taman, saudara (dekat dan jauh), tetangga, dan terutama fakir miskin untuk berbuka atau memberikan makan untuk berbuka, sehingga dengan demikian mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa tanpa dikurangi pahala puasa orang tersebut.
3. Bahagia dapat menjalin hidup berjamaah; baik shalat, ifthar, mengikuti ta’lim dan lain sebagainya.
Bahwa diantara misi puasa yang Allah SWT turunkan kepada umat Islam adalah bagaimana dapat menjalin kerja sama yang baik dan taqwa, merasakan indahnya hidup berjamaah, indahnya hidup saling berbagi, nikmatnya hidup yang penuh dengan ilmu. Kesemua itu dapat kita rasakan pada bulan ramadhan, terdapat tarbiyah itjima’iyah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Jika ini dapat kita pertahankan maka kehidupan umat Islam akan baik dan penuh dengan keharmonisan. Maka kelak Allah akan berkenan menjadikan hidup ini penuh dengan keberkahan dan kebaikan. Menjadi negeri yang
بلدة طيبة ورب غفور
“Negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun”
4. Bahagia dapat menggapai malam seribu bulan
5. Bahagia dapat melakukan silaturahim
Rasulullah saw bersabda:
من سره أن يبسط له في رزقه وأن بنشأ له في أثره فليصل رحمه
“Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezkinya dan dipanjangkan usianya maka sambunglah tali persaudaraan” (Bukhari dan Muslim).
Tradisi “halal bi halal” yang ada pada setiap hari raya iedul fitri adalah kesempatan yang baik untuk menyambung tali silaturrahim. Yang tentunya silaturrahim dalam maknanya yang luas, yaitu saling memaafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, saling mempererat hubungan persaudaraan atas dasar keimanan dan kebangsaan, bukan hanya sebatas persaudaraan atas dasar kekerabatan dan hubungan nasab keturunan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al Qur’an:
إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم
“Sesungguhnya hanyalah orang-orang mukmin sajalah yang bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (Al Hujurat: 10)
6. Bahagia dapat menggapai derajat taqwa
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah:183)

Dikutib Dari: www.al-ikhwan.net/

Qira’atul Qur’an (Membaca Al-Qur’an)

Membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan merupakan aktivitas yang harus digiatkan dan diperbanyak, siang dan malam hari. Namun yang harus diingat di sini adalah banyak terjadi kekeliruan dalam membaca Al-Qur’an, di antaranya: Sebagian umat terlalu cepat (ngebut) dalam membaca Al-Qur’an untuk mengejar target, yang kadang kala tanpa ada tartil dan tadabbur terhadap makna dan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Tujuan mereka hanyalah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu yang singkat sehingga mengabaikan perintah Allah SWT dalam firman-Nya:
وَرَتِّلْ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً
“Dan Bacalah Al-Qur’an dengan penuh tartil.” (Al-Muzzammil:4) dan firman Allah SWT:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Apakah mereka tidak mentadabburkan Al-Qur’an, atau karena hati mereka telah tertutup.” (Muhammad:24). Yang wajib adalah menyatukan dua kebaikan tersebut: Memperbanyak bacaan sambil membacanya dengan tartil dan mentadabburkannya, terutama di bulan Ramadhan yang dimuliakan ini, apalagi diiringi dengan memahami dan mengamalkan terhadap hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.
Sebagian lain juga berambisi (semangat) membaca Al-Qur’an di siang hari namun lalai membacanya pada malam harinya, dan tidak ada dalil yang mengkhususkan membaca Al-Qur’an pada siang hari saja tanpa membacanya pada malam harinya. Sebagian lainnya juga ada yang acuh dalam membaca Al-Qur’an setelah berakhir masa bulan Ramadhan bahkan ada sebagian lain tidak mengenal Al-Qur’an kecuali pada bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Al-Baqarah : 185)
Ayat diatas menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang mengimaninya, merupakan argumentasi-argumentasi yang jelas dan gamblang bagi mereka yang memahaminya. Luput dari kebathilan dan kesesatan. Juga merupakan pembeda antara haq dengan bathil, halal dengan haram. Allah SWT telah mensyariatkan Islam kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai satu-satunya agama yang benar, bukan seperti yang disangka oleh kaum kafir. Islam adalah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, yang mengatur hubungan dengan dirinya sendiri, dan yang mengatur hubungannya dengan sesama makhluk baik manusia maupun makhluk lainnya. Aktivitas menerapkan wahyu yang diturunkan, termasuk penerapan hukum-hukum syariat (Islam) secara total di berbagai aspek kehidupan manusia (baik individu, kelompok, maupun negara) merupakan penyebab hakiki terwujudnya kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Di dalam penerapan syariat Islam itulah terdapat keagungan dan kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Allah SWT berfirman :
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah SWT, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tiada mengetahui”. (Al-Munafiqun:8).
Disadari atau tidak, orang-orang kafir sudah mengetahui bahwa sumber kekuatan umat Islam adalah Al-Qur’an; selama Al-Qur’an masih dipegang kuat oleh umat Islam maka akan sulit dan mustahil dikalahkan. Karena itulah Allah SWT menceritakan bahwa orang-orang kafir berkata:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
“Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushilat:26)
Sebaliknya, jauhnya umat Islam dari Agamanya dan hukum-hukumnya merupakan penyebab hakiki akan kelemahan, ketertinggalan, dan kenestapaan mereka. Allah SWT berfirman :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta”. (Toha:124).
Berbagai krisis yang menimpa dan mengepung negeri ini sejak beberapa tahun lalu hingga hari ini merupakan sebaik-baik argumen tentang hal itu. Sekarang kaum Muslim telah sadar bahwa Islam bukanlah semata-mata sebagai syiar-syiar ibadah ritual, melainkan merupakan agama sempurna yang meliputi akidah, syariat, hukum, politik, dan risalah ke seluruh dunia. Kaum Muslimin juga telah sadar akan kewajiban menegakkan Khilafah yang menerapkan Islam secara total. mereka juga sekarang telah sadar bahwa Barat kafir selalu membuat tipudaya terhadap Islam serta hendak memadamkan cahaya-Nya.

 Dikutib Dari: www.al-ikhwan.net

Bahagia Saat Berpuasa di Bulan Ramadhan

“Ada anak bertanya pada bapaknya;
Buat apa berlapar-lapar puasa?
Ada anak bertanya pada bapaknya??
Tadarus tarawih apalah gunanya?
Lapar mengajarmu rendah hati selalu,
Tadarus artinya memahami kitab suci,
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi”.
Itulah penggalan lirik lagu Islami tentang Ramadhan yang dikarang dan dinyanyikan oleh group Bimbo beberapa tahun silam, yang mana dari isi lirik tersebut mengajak umat Islam memahami makna dan esensi dari ibadah puasa; bahwa puasa mengajarkan seseorang untuk rendah hati selalu. Bahwa puasa merupakan kebutuhan bukan sekedar kewajiban dan taklif ilahi belaka, puasa merupakan pendidikan bukan beban belaka, puasa merupakan tuntunan menuju perbaikan diri bukan sekedar tuntutan samawi belaka.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah:183)
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Al-Baqarah : 184).
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab : 35).
Puasa pada hakikatnya adalah momentum untuk menjadikan diri sebagai pribadi baru yang lebih sukses dan bahagia. Melalui puasa hubungan jiwa manusia begitu kuat dengan Allah, karena dengan puasa berarti mampu melakukan pengendalian diri; terhindar dari berbagai perbuatan maksiat; terhindar berbuat salah dan keliru karena pikiran lebih jernih dan tak terkontaminasi oleh apa pun; sekaligus banyak menuai kebaikan karena benih kebaikan yang ditebarkan pada sesama. Dan kadang pula hampir selalu bisa meraih cita-cita dan keinginan baik karena pribadi yang lebih sabar (lebih hati-hati dan tak kenal lelah) untuk berusaha meraih cita-cita dan keinginan baik itu.
Puasa juga merupakan sarana untuk mendidik manusia -terutama umat Islam- agar sukses dan bahagia dalam menjalani hidup; yaitu dengan selalu teratur dalam menata waktu secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Sebagaimana dengan puasa juga mendidik manusia untuk hidup yang lebih baik dan mencapai derajat yang terbaik; baik melalui jalinan hubungan yang baik secara horizontal (hubungan yang erat dengan Allah) dan vertikal (hubungan baik kepada seluruh makhluk, terutama sesama muslim dengan saling memberi, saling peduli dan meningkatkan solidaritas yang tinggi).
Dengan ibadah puasa pula, Allah SWT ingin memberikan tarbiyah (pembinaan) kepada umat; agar tercetak sosok yang shalih; meningkat keimanannya; bertambah mulia akhlaqnya; dan luas pengetahuannya serta tinggi komitmennya terhadap jalan dakwahnya dalam rangka menggapai ridha Allah SWT, lalu setelah itu akan lahir kepribadian islami yang utuh dan seimbang, yang siap menjawab tantangan zaman dengan segala problematika, ujian dan cobaan hidup di dunia menuju kebahagiaan hidup yang kekal di alam akhirat kelak.
Aisyah ra pernah berkata:
إِذَا سَلِمَ رَمَضَانَ سَلِمَتِ السَّنَةُ ، وَإِذَا سَلِمَتِ الْجُمُعَةُ سَلِمَتِ الأَيَّامُ
“Jika seseorang selamat –secara baik- dalam ibadah Ramadhan maka akan selamatlah satu tahun penuh setelahnya, dan jika selamat pada hari jumat nya maka akan selamat pula hari-hari setelahnya”. (Baihaqi)
Adapun secara garis besarnya, ibadah puasa merupakan sarana tarbiyah yang meliputi beberapa hal berikut:
1. Puasa; sarana tarbiyah Ruhiyah (pembinaan spiritual menuju kesucian jiwa)
Pada dasarnya setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, selain merupakan kewajiban dan alasan penciptaan manusia dan makhluk lainnya; juga merupakan sarana untuk membersihkan diri dari berbagai kotoran dan dosa yang melumuri jiwanya, sehingga tidak ada satu ibadah pun yang lepas dari tujuan tersebut; shalat misalnya merupakan sarana untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat yang dikeluarkan oleh orang kaya merupakan sarana untuk membersihkan diri dan hartanya dari kotoran yang terdapat dalam jiwa dan hartanya, seperti yang tersirat dalam surat At-Taubah ayat 103 Allah berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan (jiwa dan harta) mereka”.
Dan dalam surat Al-Lail ayat 18.
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى
“Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya (jiwa dan hartanya)
Begitu pula dengan ibadah puasa; berfungsi sebagai sarana tazkiyatunnafs (pembersih jiwa); karena orang yang berpuasa selain dapat menjaga diri untuk tidak makan dan minum, juga dituntut untuk mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT walau dalam keadaan lapar, bersikap jujur, menjaga diri dari ucapan kotor dan keji, sifat dengki dan hasad. Dan dalam ibadah puasa juga ada hikmah yang tinggi; memenangkan ruh ilahi atas materi dan akal atas nafsu angkara murka.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu, dapat menghapus segala kesalahan-kesalahan (dosa-dosa)”. (Huud:114)
Dan nabi saw bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapus segala dosa-dosanya yang telah lalu”. (Bukhari)
2. Puasa; sarana tarbiyah jasadiyah (pembinaan jasmani untuk lebih kuat)
Ibadah puasa juga merupakan ibadah yang tidak hanya membutuhkan pengendalian diri dari hawa nafsu namun juga membutuhkan kekuatan fisik, karenanya puasa tidak wajib pada mereka yang kesehatannya tidak prima dan tidak memiliki kemampuan untuk berpuasa, seperti orang tua yang telah renta, orang sakit, wanita yang sedang hamil tua atau menyusui dan khawatir terhadap kesehatan janin atau bayinya, serta orang yang sedang musafir (dalam perjalanan); yang mana semua itu diberikan rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Maka Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Baqarah:184).
3. Puasa; sarana tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial)
Selain melatih diri, puasa juga memiliki sisi pendidikan sosial, apalagi dalam kewajiban puasa Ramadhan, kian terasa sisi tarbiyah sosialnya; karena umat Islam di seluruh dunia diwajibkan menunaikan ibadah puasa, tanpa terkecuali; baik yang kaya maupun yang miskin, pria maupun wanita, para pejabat maupun rakyat jelata, dan lain-lainnya, kecuali bagi mereka yang memiliki udzur syar’i (alasan sesuai syariah), dan disinilah letak pendidikan sosialnya; mereka berada pada derajat yang sama di hadapan perintah Allah SWT; sama dalam merasakan lapar dan dahaga serta dalam menahan hawa nafsu lainnya, begitupun sama dalam ketundukan terhadap perintah Allah SWT.
Sebagaimana puasa juga dapat membiasakan umat untuk hidup dalam kebersamaan, bersatu, saling mencintai dan berkasih sayang kepada sesama terutama terhadap fakir dan miskin, sehingga orang-orang yang mampu dapat merasakan apa yang diderita oleh orang-orang fakir dan miskin, lalu tergugah hatinya untuk mau memberi dari sebagian rezki yang Allah SWT anugerahkan kepadanya. Dan dari sini pula di harapkan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas serta peduli melalui ibadah puasa.
Sebagaimana dalam ibadah puasa bulan disunnahkan untuk memperbanyak sedekah, karena sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan pada bulan Ramadhan; baik dengan sedekah yang wajib; seperti berzakat mal, zakat fitrah, zakat niaga, zakat profesi, maupun sedekah yang sunnah; seperti berinfak, memberi makan (iftar) kepada orang yang berpuasa, dan lain sebagainya.
Dan dalam puasa juga ditanamkan sifat tenggang rasa dan saling menghormati dalam kehidupan yang memiliki keragaman etnis, warna kulit dan ras, apalagi sesama muslim yang memiliki keragaman mazhab, kelompok dan golongan yang berasal dari keragaman pemahaman dalam mengambil intisari dari ajaran Islam.
Bahwa perbedaan kelompok, mazhab dan golongan adalah merupakan hal yang lumrah, namun yang patut kita sadari adalah bahwa dengan adanya perbedaan tersebut umat Islam tidak boleh terpecah belah dan tidak bersatu, namun hendaknya bisa dijadikan sarana untuk memupuk persaudaraan, menambah wawasan dan memperkokoh bangunan Islam, sehingga dengannya tidak akan terjadi saling gontok-gontokkan, saling mencela, saling menuding dan saling menghina apalagi saling berkelahi dan saling membunuh, oleh karena permasalahan sepele dan furu’ saja.
4. Puasa; sarana tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlaq menuju pribadi mulia)
Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlaq yang mulia dan terpuji, memiliki kesabaran dan kejujuran serta ketegaran dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, hal ini terlihat dari arahan Rasulullah Saw. dalam meriwayatkan hadits Qudsi bahwa orang yang berpuasa wajib meninggalkan akhlaq yang buruk. Wajib menjaga diri, jangan sampai melakukan ghibah (menceritakan aib orang lain), atau melakukan hal-hal yang tiada berguna, sehingga Allah SWT berkenan menerima puasanya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلاَّ الصِّيَامُ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثُ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبُ، فَإِنْ سَابّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Allah SWT berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa janganlah berkata keji(memaki), janganlah berteriak-teriak dan janganlah berbuat perkara yang bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa… .” (Bukhari dan Muslim)
5. Puasa; sarana tarbiyah jihadiyah
Puasa juga merupakan sarana menumbuhkan semangat jihad dalam diri umat Islam, terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam setiap jiwa; dengan mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang. Sebagaimana puasa juga menumbuhkan semangat jihad nyata dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh Islam yang setiap saat merongrong eksistensi umat Islam. Oleh karenanya banyak kisah yang terjadi pada masa Rasulullah saw bahwa peperangan yang terjadi dan dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya adalah pada bulan puasa, dan justru dengan berpuasa mereka dapat lebih semangat dalam berjihad, hati dan jiwa merasa terasa lebih dekat kepada Allah SWT dibanding pada hari dan bulan lainnya.
Dan puncak tarbiyah yang dapat diraih oleh seorang muslim dalam ibadah adalah mencapai derajat taqwa, sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT pada penutup perintah-Nya untuk berpuasa, “agar kamu bertaqwa”, karena dengan puasa kesehatan hati dan jasmani terjaga.
6. Puasa;  Sarana Tarbiyah Shihiyyah
Rasulullah saw bersabda :
وَصُومُوا تَصِحُّوا
“Berpuasalah kalian, niscaya akan sehat” (Thabrani).
Puasa selain merupakan ibadah amaliyah yang diwajibkan dengan cara menahan diri dari makan, minum dan hawa nafsu, juga merupakan sarana yang dapat memberikan kesehatan bagi tubuh. Karena dalam kondisi normal, tubuh mendapatkan energi dan nutrisi yang berasal dari luar tubuh, melalui makanan, minuman dan radiasi Autolisis atau self digest yang merupakan salah satu program untuk mendapatkan energi dan nutrisi yang berasal dari dalam tubuh, melalui pembakaran sel-sel tubuh yang dikenali sebagai sumber makanan. Saat berpuasa maka program Autolisis ini aktif dan memberi manfaat yang dibutuhkan makhluk.
Ketika berpuasa sistem pencernaan manusia beristirahat. Sel-sel liar dan lemak yang telah dihancurkan akan dibawa ke hati. Saat puasa, hati tidak disibukkan oleh makanan hasil serapan dari usus. Oleh karena itu, hati akan bekerja penuh menyaring racun-racun hasil autolisis. Dan selanjutnya racun akan dibuang keluar tubuh. Lalu darah akan dipenuhi energi dan nutrisi yang sehat dan berkualitas tinggi. Menjamin penggantian sel mati, perbaikan sel rusak, dan pembentukan sel baru, terjadi dengan kualitas prima. Tubuh manusia akan segera memiliki sel-sel baru dengan kualitas fitrah, sehat dan berfungsi baik ketika puasa. Sementara itu, energi yang di hemat dari sistem pencernaan, akan digunakan untuk aktivitas sistem kekebalan tubuh dan proses berpikir oleh otak.
Jadi manfaat puasa dari sisi kesehatan bagi manusia sangatlah banyak, seperti :
1. Efektifitas pengelolaan energi
2. Menghancurkan sel-sel yang tidak dibutuhkan
3. Membuang endapan racun dalam tubuh
4. Menyembuhkan penyakit
5. Meningkatkan kemampuan belajar
6. Kembali Fitrah (awet muda dan cerdas)
Bedanya orang puasa dan orang yang telat makan adalah pada niatnya. Saat lapar, otak memerintahkan organ-organ pencernaan bersiap-siap ‘makan’. Liur, lambung, hati, usus, beramai-ramai mengeluarkan enzim dan beraktivitas. Bila tidak ada makanan yang masuk, maka lambung dan usus akan sakit. Kita akan terkena sakit maag atau radang usus, karena lapar namun berbeda dengan puasa yang sejak awal sudah diniatkan, sehingga sel-sel tubuh tidak aktif mencari solusi mendapatkan makanan, dan sangat jarang orang karena puasa terkena penyakit maag dan kembung.
Allah SWT mewajibkan umat manusia (umat Islam) berpuasa pada siang hari bukan pada malam hari; karena pada siang hari manusia beraktivitas bukan tidur, dan dengan aktivitas tersebut akan membakar energi hingga habis.
Bahwa kebutuhan energi diperoleh dari glukosa hasil makan (sahur). Setelah habis energi diperoleh dari glikogen dalam darah. Bila kandungan glikogen berkurang baru otak menyatakan lapar dan menyuruh makan. Bila kita sedang puasa, otak akan menghidupkan program Autolisis. Namun pada malam hari, tanpa aktivitas fisik, energi yang dibutuhkan tubuh sedikit, sehingga glikogen darah tidak pernah terpakai dan autolisis tidak pernah diperintahkan untuk aktif. Jadi ketika berpuasa sebaiknya manusia beraktifitas normal, agar dapat memperolah manfaatnya bukan tidur sepanjang siang.
Dan puasa hanya dibatasi pada siang hari saja, yang dimulai sejak waktu subuh tiba hingga beduk Maghrib; karena jika puasa melebihi waktu dari 16 jam akan membahayakan tubuh. Produksi enzim oksidasi asam lemak dalam tubuh terbatas dan akan habis bila manusia berpuasa selama 16 jam lebih. Dan bila seseorang memaksakan diri untuk terus berpuasa, maka kadar asam lemak bebas (free fatty acids) dalam darah akan tinggi sehingga dapat menyebabkan otak menjadi pusing, kemudian membengkak dan lama-lama menjadi koma. Oleh karena itu, makan sahur mendekati imsak, dan bersegera berbuka waktu masuk magrib sangat ditekankan, dan menjadi bagian dari fitrah yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw.
Dan puasa hanya diwajibkan selama satu bulan penuh dalam setahun, oleh karena lebih dari 90% sel dalam tubuh manusia mengalami peremajaan dalam periode 28 hari. Terutama pada beberapa hal berikut:
1. Sel kulit dan kulit kepala, sel-sel hati, dan sel-sel yang membentuk kalsium pada tulang mati dan diganti setiap hari.
2. Sel reseptor informasi dari saraf, pembentukan sel melanin di kulit, dan sel-sel yang terkait dengan haid wanita. mempunyai siklus pergantian setiap satu bulan (sekitar 28 hari).
3. Sel darah merah diganti setiap 4 bulan (120 hari)
4. Sel otak mempunyai siklus pergantian bertahun-tahun
Dan ibadah puasa hanya diwajibkan pada bulan Ramadhan bukan pada bulan-bulan lainnya; oleh karena ada siklus badai radiasi matahari yang memberi kemampuan belajar yang tinggi; dan tubuh yang fitrah dapat terkontaminasi kembali atau aus, baik oleh perubahan iklim/musim, maupun oleh pola hidup manusia. Seiring perubahan musim, adaptasi sel-sel tubuh akan berulang setiap tahun. Sebelum memulai siklus adaptasi berikutnya, maka sel-sel harus disiapkan dalam kondisi fitrah. Sehingga puasa satu bulan harus diulangi setiap tahun. Karena puasa menyediakan energi extra untuk belajar atau berpikir, dan sebaiknya puasa yang dilakukan pada saat kondisi alam yang baik, akan mendukung kondisi kecerdasan (daya tangkap) otak. Aktivitas otak terlihat dari getaran membran sel otak, dan tingkat getaran otak dipengaruhi oleh radiasi elektromagnetik. Tingkat kesadaran otak berbeda antara malam, pagi, siang dan sore hari. Badai matahari juga berpengaruh terhadap tingkat kesadaran otak.
Berdasarkan skala NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Badai Radiasi Matahari dikelompokkan dalam lima skala (S1-S5). Badai matahari yang mempunyai siklus tahunan terletak antara skala S2 (Moderate) dan S3 (Strong), yang masih aman bagi manusia.
Pada setiap bulan Ramadhan diperkirakan terjadi badai radiasi dengan tingkat flux 700-800 MeV particle s-1 ster-1 cm-2. Radiasi ini sekitar seribu kali radiasi bulan purnama dengan tingkat flux 0.7-0.8 MeV particle s-1 ster-1 cm-2. Ini adalah hipotesa malam lailatul qadar yang bernilai seribu bulan (wAllah SWTu’lam) Tingkat kesadaran otak yang tinggi di bulan Ramadhan merupakan alasan mengapa banyak Nabi merenung di bulan ini, dan mengapa Al Quran turun pada bulan ini.
Pada saat berpuasa dilarang melakukan hubungan seksual; oleh karena hubungan suami istri pada saat puasa selain merupakan pelanggaran syariat, juga menguras energi; yang mana semua orang memahami betul bahwa;
1. Sex adalah aktivitas fisik seperti olahraga yang membutuhkan energi tinggi
2. Karena dengan bersentuhan akan terjadi saling pindah energi (hukum termodinamika) secara tak beraturan
3. Karena sex merupakan tingkat emosi tertinggi yang ada pada diri manusia sehingga dapat menguras energi yang sangat besar
4. Adanya ejakulasi pada saat hubungan intim dapat membuang banyak energy dan kebutuhan pemulihan energi yang banyak setelah sex, akan mempercepat habisnya enzim oksidasi. Bila dipaksakan terus berpuasa, maka dikhawatirkan sebelum waktu berbuka tiba, akan terjadi penumpukan asam lemak bebas yang bikin otak pusing, sementara tujuan fitrah jadi tidak tercapai.
Karena itu, ketika berpuasa hendaknya menjauhi hal-hal yang mengarah pada pikiran-pikiran porno. Tahan sebentar. Nanti ketika malam dan sudah tidak puasa, diperbolehkan berhubungan badan dengan suami/istri yang sah
Sebagaimana orang puasa diperintahkan untuk menahan gairah sex-nya maka secara umum diperintahkan untuk menahan emosi, karena yang berlebihan juga akan menguras energi. Otak akan menyerap energi cukup besar.
Otak juga akan memerintahkan jantung untuk berdetak lebih cepat sehingga semakin banyak energi terkuras oleh adanya emosi negatif dan akan membawa manusia pada kondisi stress, suatu kondisi otak yang kacau karena keinginan tidak sama dengan kenyataan, dan jalan keluarnya belum ditemukan. Stress menyebabkan otak mengkonsumsi energi dalam jumlah banyak.
Oleh karena itu, sebaiknya saat berpuasa manusia tidak mengumbar emosi negatif seperti marah, takut, benci, iri, dengki, sombong, dusta, dan lain-lain. Hadapi hal-hal yang kurang menyenangkan dengan sabar.
Sebaliknya manusia juga harus memperbanyak kondisi yang membangun emosi positif, seperti tersenyum, optimis, membantu orang lain, melakukan tindakan-tindakan yang bernilai baik (amal saleh), bersedekah, dan lain-lain.
Euphoria adalah kegembiraan yang diungkapkan secara berlebihan, juga akan menyedot energi. Sebaiknya hadapi semua hal yang menyenangkan dengan bersyukur.
Selain berpuasa di siang hari, umat Islam juga diperintahkan untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Oleh karena shalat tarawih bersifat sunnah, artinya aktivitas tambahan yang memberi manfaat. Menjelang tidur, otak berada pada gelombang Teta (3-7 hz), suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya penyamaan persepsi dan pembentukan paradigma bagi di seluruh bagian otak.
Persepsi dan paradigma sangat membantu manusia bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga persepsi dan paradigma yang harus dibangun tentu yang bernilai tinggi. Sesuai dengan tatanan jaringan neurotransmitter otak, maka paradigma bernilai tinggi adalah Ke-Esaan Allah SWT, kehidupan setelah mati, aktivitas kehidupan dunia yang bermanfaat (taqwa) dan senantiasa bersyukur.
Memperbanyak shalat dan dzikir, secara spiritual juga dapat mendekatkan dan mengakrabkan diri kepada sang pencipta; Allah SWT. Melepaskan seluruh beban dan mengharap pertolongan-Nya pada setiap langkah kehidupan. Selalu mengawali kehidupan dengan gembira dan tanpa rasa takut.
Adanya rukhsah (keringanan) bagi orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa, dikarenakan puasa dapat menguras energi dan tidak diperbolehkan bagi yang kurang energi;
1. Orang yang sakit keras, apalagi harus diinfus dan transfusi darah, maka boleh baginya tidak berpuasa. Namun, jika hanya sekadar flu ringan sebaiknya puasa
2. orang yang dalam perjalanan yang menghabiskan energi. Dan jikalau naik pesawat dua jam lebih baik puasa
3. Wanita haidh
4. Orangtua dan anak-anak yang lemah fisik
Untuk menjaga kestabilan tubuh pada saat puasa dan pada waktu berbuka, maka harus diperhatikan pola makan yang sehat di saat puasa;
1. Jangan makan yang mengandung virus dan bakteri penyakit, seperti kondisi daging bangkai yang sedang terjangkit influenza.
2. Jangan makan yang mengandung unsur-unsur beracun, seperti yang terkandung dalam darah
3. Jangan makan jenis lemak yang sulit dicerna perut, sulit disaring hati, dan sulit diangkut oleh darah, seperti yang ada pada daging babi
4. Jangan minum minuman yang segera merusak sel-sel otak, seperti alkohol dan jenis khamar lain
5. Jangan menghisap asap yang merusak paru-paru, mengotori darah dan mengurangi suplai energi ke otak, seperti rokok
6. Seimbang kan porsi karbohidrat, lemak dan protein, atau ikuti saran 4 sehat 5 sempurna
7. Jangan makan melebihi kapasitas lambung yang hanya 1-1.5 liter
8. Di saat buka dianjurkan minum air putih dan jus buah/kurma lalu shalat Maghrib, untuk membersihkan endapan racun pada dinding-dinding usus. Makan malam secukupnya setelah shalat Maghrib
9. Makan yang sehat adalah dengan posisi duduk disertai rasa bersyukur. Berdoalah sebelum dan setelah makan.
(Dikutip dan diringkas dari Quranic Quotient Centre yang disusun oleh Rajendra Kartawiria).
Adapun di antara keistimewaan ibadah puasa yang akan membuahkan kebahagiaan adalah sebagai berikut:
1. Puasa Sebagai Perisai.
Rasulullah saw bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِيرُ بِهَا الْعَبْدُ مِنْ النَّارِ
“Puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka.” (Ahmad)
Puasa merupakan perisai karena memelihara setiap hamba yang berpuasa dari melakukan tindakan yang melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya. Memelihara diri agar tidak terjerumus pada perbuatan maksiat, perkataan kotor, dan hati yang pendengki.
2. Puasa Memasukkan Seseorang ke Dalam Surga
Sebagaimana telah disebutkan sebelum-nya bahwa puasa itu dapat menjauhkan diri dari api neraka, yang otomatis mendekatkan pelakunya kepada surga. Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:
قَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِأَمْرٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهِ قَالَ عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ
“Abu Umamah Al-Bahili penah berkata: saya berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang Allah dapat memberikan manfaat kepadaku dengannya”. Maka Rasulullah saw. pun menjawab : “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya.” (Nasa’i)
3. Puasa Mendapat Pahala Tak Terhitung
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perem¬puan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perem¬puan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab : 35)
4. Orang yang Berpuasa Mendapatkan Dua Kebahagiaan
Nabi saw bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Ada dua kebahagiaan yang diperuntukkan bagi orang yang berpua¬sa; kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (Bukhari dan Muslim)
5. Bau Mulut Orang yang Berpuasa Harum di Hadapan Allah
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw.: Allah swt. berfirman:
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali pua¬sa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberi paha¬la atasnya. Puasa itu adalah peri¬sai, maka pada saat berpuasa hen¬daknya seseorang di antara ka-mu tidak melakukan rafats (berji¬ma’ dan berbicara keji) dan tidak juga membuat kegaduhan. Jika ada orang yang mencacinya atau meny¬erangnya, maka hendaklah ia men¬gatakan, ”Sesungguhnya aku ber¬puasa”. Demi Allah yang jiwa Mu¬hammad berada di tangan-Nya, se¬sungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Al¬lah daripada bau minyak kesturi di hari kiamat. Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua keg-embiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, ia gembira dengan puasanya.” (Bukhari dan Muslim)
6. Puasa dan Al-Qur’an Memberi Syafaat Bagi Pelakunya
Rasulullah saw. bersabda:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata: “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafaat ke-padanya”. Dan Al-Qur’an berkata: “Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya. Beliau bersabda, ”Maka syafaat keduanya diperkenankan.” (Ahmad)
7. Puasa Sebagai Kafarat atau Penebus Dosa
Di antara keutamaan yang hanya dimiliki oleh ibadah shaum adalah bahwa Allah swt. telah menjadikan puasa sebagai penebus dosa bagi orang yang mencukur kepala dalam ihram karena ada halangan baginya, baik karena sakit atau karena gangguan yang terdapat pada kepala.” Al-Baqarah:196
Puasa juga dapat menjadi kafarat karena tidak mampu memotong hewan kurban, (Al-Baqarah:196).
Kafarat bagi yang membunuh seseorang yang berada dalam perjanjian karena kesalahan atau tidak sengaja, (An-Nisaa’:92). Kafarat bagi yang melanggar sumpah, (Al-Maaidah:89). Kafarat bagi yang membunuh binatang buruan pada saat ihram, (Al-Maaidah:95). Dan kafarat zhihar, (Al-Mujaadilah:3-4)
Nabi saw. bersabda:
الصَّلَوَاتِ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, hari jumat dengan jumat yang lainnya dan antara Ramadhan dengan Ramadhan lainnya, adalah sebagai penebus dosa selama tidak berbuat dosa besar.” (Muslim)
Dalam hadits lain juga disebutkan, nabi saw. bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab (berharap ridha Allah) maka dosa-dosa yang lalu akan diampuni.”
Demikian halnya shaum dan sedekah, keduanya berperan serta dalam penebus pelanggaran dosa seseorang, baik di dalam keluarga, harta, atau tetangga. Dari Hudzaifah bin Yaman ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.:
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ
“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga (istri), harta, anak, dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan sedekah.” (Bukhari dan Muslim)
8. Ar-Rayyan Disediakan Bagi Orang yang Puasa
Nabi saw. bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyan. Dari pintu ter-sebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa. Dikatakan kepa¬da mereka: “Di mana orang-orang yang berpuasa?”. Maka mereka pun masuk melaluinya. Dan apabila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu tersebut ditut¬up sehingga tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk, maka ia akan minum minuman surga. Dan barangsiapa yang minum minuman surga, maka ia tidak akan haus selamanya.” (Bukhari dan Muslim)
Demikianlah hakikat ibadah puasa Ramadhan yang selayaknya dapat mem¬berikan kebahagiaan bagi pelakunya; baik kebahagiaan batin, kebahagiaan fisik dan kebahagiaan pikiran. Karena secara garis besar tujuan dari ibadah shaum adalah membersihkan jiwa dari kekerdilan diri, menahan nafsu hewani, dan menjaga kesehatan jasmani. Allahu a’lam

Dikutip Dari:www.al-ikhwan.net/